Memendam

9/11/2018

Kau mencuri hatiku, kemudian memaksaku untuk merindukanmu, anehnya aku tidak menentang ketika kau melakukan itu, mungkin semua karna aku merasa ada dirimu didalam diriku, itulah sebabnya aku selalu memeluk ragaku sendiri ketika sedang merindu.
Aku satu hati yang beku.
Mencintaimu.
Tapi tak mau mengaku.

Aku memang patut disebut sebagai pengecut, hanya berani mencintaimu diam-diam, sekedar memerhatikanmu dari kejauhan, namun memendam rasa dalam-dalam.

Waktu terus berlalu, dengan aku yang penuh kepalsuan, rasanya seolah aku terjebak di dalam ruang yang kaya akan kebohongan, kemudian mati didalamnya, terbunuh oleh peluru cemburu tiada henti, yang terus melesat tanpa ada akhir.

Perekat yang menyelamatkan

6/19/2018

Malam hari adalah waktu yang tepat untuk mendambamu melalui foto yang kuambil dari sosial media. Karna aku hanyalah lelaki biasa yang sadar betul kamu sedang ingin sendiri. Kamu hanya ingin ditemani bukan aku miliki.

Aku terjebak dalam penantian, berharap kamu dan aku bersama menjadi kenyataan, belasan kali aku menyatakan namun jawabanmu selalu sama "Tidak kita cukup berteman".

Aku mempunyai hati yang keras kepala, iya selalu mengalahkan pikiran yang selalu berkata "apakah aku bisa bertahan? Atau aku jadikan kenangan saja?". Kuikuti apa kata pikiran, lari dan pergi, yang terjadi hati selalu menuntun untuk kembali.

Aku lawan kata hati dan menggunakan logika untuk menjauhimu dengan hati-hati, 3 hari aku tidak berkomunikasi, aku masih ingat rasanya, membosankan karna tidak ada suaramu, dan penasaran karna tidak tau kamu sedang apa?

Disaat aku sedang menjauhimu kau malah memintaku mendekatimu. Dan disaat itu lah ketika hatiku pecah berkeping oleh penolakanmu pelukmu perekat yang menyelamatkan.

Dipukul Mundur

4/12/2018

Aku tidak ingin menjadi penghancur dihubungan kalian, ketika kamu bercerita masalahmu dengannya aku akan mendengarkan, dan aku juga memberi saran. Tapi apa yang dia lakukan tidak sepatutnya dia lakukan apalagi terhadapmu. Karnanya kamu menangis

Aku benci ketika kamu sudah menangis, kusarankan untuk mengakhiri saja hubunganmu sesuai apa yang dia inginkan, dan kau menolaknya dan berfikir bahwa hubungan kalian akan baik-baik saja.

Tidak berselang lama kamu mengirimku pesan, bahwa hubunganmu telah usai, sumpah demi Tuhan aku bahagia mendengarnya sekaligus sedih karna kau bercerita sembari menangis. Sialnya aku jauh darimu karna kita dipisahkan oleh jarak. Aku berusaha menjadi bahan tertawanmu, dan aku berhasil, memang kamu tertawa namun hanya lewat pesan, jadi aku tidak bisa melihat tawamu yang begitu mengagumkan.

Tiba-tiba saja kau seperti menjauhiku, pesanku tidak pernah kau anggap, hingga aku kesal dan akhirnya perasaanku terungkap, lalu apa yang aku dapat? Penolakanmu. Kau bilang kau tidak ingin bersamaku dan masih ingin dengan dia yang telah membuangmu. Aku bilang Tuhan bisa membolak-balikkan perasaan. Kau bilang kau tidak ingin denganku karna hatimu memilihnya. Aku bilang akan kubuat hatimu memilihku. Kau bilang kau tidak ingin pacaran lagi selain dengannya. Aku diam.

Aku berusaha keras meyakinkanmu bahwa aku bisa lebih baik darinya, tapi sepertinya itu tidak berguna. Semua perkataanmu seperti memaksaku untuk mundur. Dengan tegar aku terasing, pikiran dan hati bertengkar mencoba berunding, tapi hati tidak pernah mau mengalah, sampai lautan cinta mulai mengering.


Menerima kenyataan

3/22/2018



Sudah berkali-kali aku menyatakan, tapi aku tetap kalah dengannya yang selalu kau idam-idamkan. Tekadku kurang kuat untuk memilikimu, aku lelah jika terus menikmati rasa jatuh cinta ini sendirian. Kini rasa ini sudah mencapai titik jenuh.

Aku ingin mengikhlaskanmu walau berat, aku yang sudah lama menunggumu akan pergi untuk merelakanmu. Hal yang aku benci selain pelajaran Matematika adalah melihatmu berdua dengannya, pemandangan itu sungguh menyakitkan.

Kau mungkin hanya nyaman dengan sebutan teman, tapi akan jauh lebih nyaman jika aku dan kau bersama, sungguh kebahagiaan itu hanya sebatas wacana.

Berbulan-bulan telah berlalu, aku berhasil mencari kesibukan agar terbiasa tanpamu. Hasilnya aku berhasil menerima kenyataan bahwa kau kini milik temanku.

Aku tidak peduli teman-temanku meledekku bahwa aku kalah, bahwa cintaku telah direbut. Yang aku pedulikan adalah senyumanmu dapat membuatku merasa tenang, dan setiap kau dengannya senyum itu ada. Aku bisa melihat itu kala kau sedang berdua dikantin sekolah dan aku akan selalu melihatnya tanpa kamu ketahui.

Lalu aku mulai sadar, bahwa berjuang sendirian, mencintai sendirian, adalah bukti bahwa aku tidak mencintai diriku sendiri.


Tempat Bersandar

2/21/2018



Setelah kamu hadir dikehidupanku. Ponselku selalu aktif untuk menunggu kabarmu. Untuk sekedar tau kamu sedang apa? sudahkah kamu makan? dan bagaimana kabar hubunganmu dengan dia?

Pertanyaan itu selalu berulang. Tentang kamu dan dirinya yang belum terucap kata pisah. Aku tidak mengapa. Bukan karena aku kuat dan rela, tetapi aku sudah terlanjur jatuh cinta.

Maafkan aku tentang rasa ini. Ia tak pernah mengerti luka. Bahkan ia tidak bisa menulis jera. Apalagi peka tentang kau yang sudah bersama dia. Yang rasa ini tau, ketika ia jatuh cinta, ia akan terus berusaha.

Suatu malam kamu bercerita tentangnya, bahwa dia selalu mengacuhkanmu demi dunianya. Aku menasehatimu untuk terus bersabar.  Aku sadar aku hanya menjadi tempat bersandarmu ketika kamu bersedih. Tapi setidaknya aku dibutuhkanmu bukan?

Tidak lupa namamu selalu kusebut dalam doa, jadi tersenyumlah. karna aku meminta agar kau bahagia, aku dan kamu adalah kita yang belum ditakdirkan untuk bersama.

Pertemuan

Pertemuan

2/20/2018

Masih perihal masa lalu, adalah dia yang masih belum bisa aku ikhlaskan. Aku selalu bertanya, dan aku selalu mencari jawaban tentang aku yang belum bisa mengikhlaskan. Aku percaya dia akan baik-baik saja. Aku menjaga jarak dengan hati-hati namun masih dengan hati.

Seperti hidup dalam bayangan, melangkah namun tak bertujuan. Tanpa dia jiwaku bimbang tak berarah. Usahaku untuk menjadikan dia sebuah tujuan telah terhenti, terimakasih harapan kau hanya berwujud kenangan.

Sampai aku menemukan jawaban yang selama ini aku cari. Sebuah pertemuan dengan kamu wanita berbibir pucat, lalu apa kabar perasaan dengan manusia berinisial dia itu? Percayalah dia Sudah tidak adalagi dihatiku setelah ada kamu yang baru.

Ketika aku sedang terpuruk, kamu seolah berkata " Kejutan!, cintailah aku dari pada dia", memang benar, kini aku mencinta kamu dan dia sudah entah kemana.
 

Menunggu

2/04/2018

Mulanya aku biasa saja, sekian detik kemudian aku mulai memendam rasa, semua kupendam. Aku takut jika aku nyatakan kita akan seperti orang asing, aku tau kamu sudah mencintai dia bukan aku.
Kamu selalu bercerita perihal dia kepadaku, tidak terhitung sudah berapa banyak pesan dihabiskan hanya untuk menceritakan dia, dan pulsamu dihabiskan untuk menelponku, apa yang aku dengar? Tangisanmu.
Kamu menangisi dia yang kamu damba, jika kamu sedikit peka, mungkin saja kita berdua sudah bahagia, tak apa jika kau jadikan aku tempat curhatanmu, aku senang seperti ini walau selalu ada rasa cemburu, tapi ini satu-satunya caraku agar bisa dekat denganmu, karna aku yakin suatu saat kamu pasti bisa aku miliki.
Aku tidak akan menjadi orang ke-3, aku akan selalu seperti ini, mendengarkan curhatanmu lalu runtuh, mendengar tangismu kemudian luluh, dan akan selalu seperti itu, hingga tiba saatnya kamu menjadi milikku.

Ditinggal Kamu

1/30/2018

Ada hal yang paling aku benci, yang pertama ketika aku kesiangan dan lupa untuk sholat subuh, yang kedua kamu menghilang tanpa kabar lalu aku selalu menuduhmu yang tidak-tidak, dan yang ketiga adalah ketika kamu pergi.
Apa yang bisa aku lakukan ketika kamu pergi?, aku hanya diam, niat awalku untuk mengikhlaskan tapi nyatanya malah jadi sakit sendirian. Kini hatiku dan hatimu sudah berbeda haluan, aku kepadamu, dan kamu kepada temanku.
Inginku menjauh namun tertahan oleh perasaan, aku pasrah dengan kamu yang semakin lama semakin menjauh, doaku tidak bisa membuatmu kembali, bahkan sikapmu kini sudah tak acuh, berpura-pura buta dan tuli, kau melupakanku seakan aku sudah mati.