Kau mencuri hatiku, kemudian memaksaku untuk merindukanmu, anehnya aku tidak menentang ketika kau melakukan itu, mungkin semua karna aku merasa ada dirimu didalam diriku, itulah sebabnya aku selalu memeluk ragaku sendiri ketika sedang merindu.
Aku satu hati yang beku.
Mencintaimu.
Tapi tak mau mengaku.
Aku memang patut disebut sebagai pengecut, hanya berani mencintaimu diam-diam, sekedar memerhatikanmu dari kejauhan, namun memendam rasa dalam-dalam.
Waktu terus berlalu, dengan aku yang penuh kepalsuan, rasanya seolah aku terjebak di dalam ruang yang kaya akan kebohongan, kemudian mati didalamnya, terbunuh oleh peluru cemburu tiada henti, yang terus melesat tanpa ada akhir.

