Tempat Bersandar

2/21/2018



Setelah kamu hadir dikehidupanku. Ponselku selalu aktif untuk menunggu kabarmu. Untuk sekedar tau kamu sedang apa? sudahkah kamu makan? dan bagaimana kabar hubunganmu dengan dia?

Pertanyaan itu selalu berulang. Tentang kamu dan dirinya yang belum terucap kata pisah. Aku tidak mengapa. Bukan karena aku kuat dan rela, tetapi aku sudah terlanjur jatuh cinta.

Maafkan aku tentang rasa ini. Ia tak pernah mengerti luka. Bahkan ia tidak bisa menulis jera. Apalagi peka tentang kau yang sudah bersama dia. Yang rasa ini tau, ketika ia jatuh cinta, ia akan terus berusaha.

Suatu malam kamu bercerita tentangnya, bahwa dia selalu mengacuhkanmu demi dunianya. Aku menasehatimu untuk terus bersabar.  Aku sadar aku hanya menjadi tempat bersandarmu ketika kamu bersedih. Tapi setidaknya aku dibutuhkanmu bukan?

Tidak lupa namamu selalu kusebut dalam doa, jadi tersenyumlah. karna aku meminta agar kau bahagia, aku dan kamu adalah kita yang belum ditakdirkan untuk bersama.

Pertemuan

Pertemuan

2/20/2018

Masih perihal masa lalu, adalah dia yang masih belum bisa aku ikhlaskan. Aku selalu bertanya, dan aku selalu mencari jawaban tentang aku yang belum bisa mengikhlaskan. Aku percaya dia akan baik-baik saja. Aku menjaga jarak dengan hati-hati namun masih dengan hati.

Seperti hidup dalam bayangan, melangkah namun tak bertujuan. Tanpa dia jiwaku bimbang tak berarah. Usahaku untuk menjadikan dia sebuah tujuan telah terhenti, terimakasih harapan kau hanya berwujud kenangan.

Sampai aku menemukan jawaban yang selama ini aku cari. Sebuah pertemuan dengan kamu wanita berbibir pucat, lalu apa kabar perasaan dengan manusia berinisial dia itu? Percayalah dia Sudah tidak adalagi dihatiku setelah ada kamu yang baru.

Ketika aku sedang terpuruk, kamu seolah berkata " Kejutan!, cintailah aku dari pada dia", memang benar, kini aku mencinta kamu dan dia sudah entah kemana.
 

Menunggu

2/04/2018

Mulanya aku biasa saja, sekian detik kemudian aku mulai memendam rasa, semua kupendam. Aku takut jika aku nyatakan kita akan seperti orang asing, aku tau kamu sudah mencintai dia bukan aku.
Kamu selalu bercerita perihal dia kepadaku, tidak terhitung sudah berapa banyak pesan dihabiskan hanya untuk menceritakan dia, dan pulsamu dihabiskan untuk menelponku, apa yang aku dengar? Tangisanmu.
Kamu menangisi dia yang kamu damba, jika kamu sedikit peka, mungkin saja kita berdua sudah bahagia, tak apa jika kau jadikan aku tempat curhatanmu, aku senang seperti ini walau selalu ada rasa cemburu, tapi ini satu-satunya caraku agar bisa dekat denganmu, karna aku yakin suatu saat kamu pasti bisa aku miliki.
Aku tidak akan menjadi orang ke-3, aku akan selalu seperti ini, mendengarkan curhatanmu lalu runtuh, mendengar tangismu kemudian luluh, dan akan selalu seperti itu, hingga tiba saatnya kamu menjadi milikku.