Jarak

Jarak

7/20/2019

Kita telah terbiasa dekat tanpa ada jarak. Sekarang kita menjadi berjarak. Kita dipaksa melalukan segala perkara seorang diri dan mulai beradaptasi dengan kesendirian.

Keadaan telah berubah karna jarak. Kau menjadi mudah marah. Kesibukan-kesibukan yang kujalani selalu menjadi alasan setiap kecurigaan. Aku khawatir kalau nanti kau menjadikannya sebagai pendorong untuk kita berpisah.

Tidak satu haripun terlewat tanpa adanya percakapan bahwa kita berdua saling merindu. Sungguh aku membenci jarak. Aku ingin memelukmu lagi. Menikmati hangatnya dekapanmu dan mengecup keningmu sebelum aku meninggalkanmu untuk kembali pulang.

Sifat seseorang bisa berubah karna jarak. Yang dulunya penyabar, menjadi mudah marah hanya karna hal-hal kecil. Karna jarak mulutmu mudah sekali untuk berkata "Seandainya kamu memutuskan hubungan ini aku tidak keberatan."

Di hari itupun aku mulai berubah. Ketika kau emosi aku pun ikut emosi, dan tidak lama kalimat perpisahan pun akhirnya keluar dari mulutku. Aku merasa kau sudah tak lagi cinta. Semengerikan itu hadirnya sebuah jarak. Karnanya kita berdua berubah, dan karnanya juga akhirnya kita berpisah.

Setelah Perpisahan

Setelah Perpisahan

7/15/2019

Setelah perpisahan kita, senyummu masih jelas diingatan seakan menahanku untuk mengikhlaskan. Aku harap sang waktu menyembukan luka yang kau ciptakan, namun waktu menjadi terasa sangat lambat ketika kita sedang terluka.

Aku menikmati semua luka, dengan gambaran wajahmu di galeri ponselku, aku menghapusnya dengan sangat terpaksa. Aku berharap ini hanyalah sebuah mimpi dan saat aku terbangun kau masih mengucap "Selamat pagi" lewat pesan.

Percayalah mengikhlaskanmu tidak semudah saat jatuh cinta