Setelah perpisahan kita, senyummu masih jelas diingatan seakan menahanku untuk mengikhlaskan. Aku harap sang waktu menyembukan luka yang kau ciptakan, namun waktu menjadi terasa sangat lambat ketika kita sedang terluka.
Aku menikmati semua luka, dengan gambaran wajahmu di galeri ponselku, aku menghapusnya dengan sangat terpaksa. Aku berharap ini hanyalah sebuah mimpi dan saat aku terbangun kau masih mengucap "Selamat pagi" lewat pesan.
Percayalah mengikhlaskanmu tidak semudah saat jatuh cinta
