Menerima kenyataan

3/22/2018



Sudah berkali-kali aku menyatakan, tapi aku tetap kalah dengannya yang selalu kau idam-idamkan. Tekadku kurang kuat untuk memilikimu, aku lelah jika terus menikmati rasa jatuh cinta ini sendirian. Kini rasa ini sudah mencapai titik jenuh.

Aku ingin mengikhlaskanmu walau berat, aku yang sudah lama menunggumu akan pergi untuk merelakanmu. Hal yang aku benci selain pelajaran Matematika adalah melihatmu berdua dengannya, pemandangan itu sungguh menyakitkan.

Kau mungkin hanya nyaman dengan sebutan teman, tapi akan jauh lebih nyaman jika aku dan kau bersama, sungguh kebahagiaan itu hanya sebatas wacana.

Berbulan-bulan telah berlalu, aku berhasil mencari kesibukan agar terbiasa tanpamu. Hasilnya aku berhasil menerima kenyataan bahwa kau kini milik temanku.

Aku tidak peduli teman-temanku meledekku bahwa aku kalah, bahwa cintaku telah direbut. Yang aku pedulikan adalah senyumanmu dapat membuatku merasa tenang, dan setiap kau dengannya senyum itu ada. Aku bisa melihat itu kala kau sedang berdua dikantin sekolah dan aku akan selalu melihatnya tanpa kamu ketahui.

Lalu aku mulai sadar, bahwa berjuang sendirian, mencintai sendirian, adalah bukti bahwa aku tidak mencintai diriku sendiri.


Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar